Awaaaassss Sapiiiiiiii!!!!!!!!

Duaaa….tahun sudah…ku sabar menanti…. ku di landa sapiiiiii…..


Nyanyian itu mungkin mirip dengan lakon Bobby Meidianto si Jaguar kita saat ini yang lama menanti Meutya Hafid, namun hal itu berhubungan dengan kisahnya saat masih SLTA dulu….yang juga lagi Mumet patah hati.


Siang itu…. serombongan pemuda dari group Commando Brown Barret Kresna Murti XI/31/197 Sekolah Menengah Pekerjaan Sosial Surakarta, sedang asyik berjalan di Cepogo Boyolali sambil bersenda gurau dan menyanyikan lagu itu yang mereka ubah seenaknya. Dan itu memang di Bulan Desember tahun 1987.


Mereka adalah Bobby si Jaguar, Surkim, Joni Iskandar, Sugianto, Tri Sihono, Paidi,dan Sinung yang semua ingin melakukan sebuah perjalanan HICKING dari Boyolali- Pantaran Ampel dengan mencari jalan tembus sendiri lewat jalur Cepogo (Bawah Selo). karena mereka rindu dengan cewe2 mereka yang lagi kemah di Pantaran itu.


Tanpa mereka sadari bahwa lagu itu akan menjadi kenyataan bagi mereka itu.


Ketika sampai di Cepogo itu mereka lalu ambil jalan ke kanan masuk ke sebuah desa dan melewati sungai yang sedang kering.


Rombongan itu berpapasan dengan seorang penduduk desa yang sedang menuntun seekor sapi berlawanan arah dengan mereka saat mereka sedang berjalan di jembatan yang menghubungkan ke dua pinggiran sungai itu.


Ketika itulah sapi itu menunjukkan gelagat aneh…. ia berhenti dan memandangi satu persatu cowo2 beken kita itu saat mereka melewatinya.


Jaguar sudah merasakan hal tidak beres itu juga Sinung Sri Handoyo.


Lalu ternyata setelah beberapa menit kemudian Bobby yang berjalan paling belakang mendengar suara gertakan dari pemilik sapi itu dan Jaguar segera menoleh ke belakang.


Saat itulah dia tiba-tiba berteriak lantang..”Awaaasss Sapiiiiii!”. Dan anak2 lainnya yang kemudian juga mengok ke belakang itu langsung….. “Ajian Serat Jiwaa…..!!!” Terbang semangatnya dan langsung keluarkan ilmu lari cepat mereka yang entah dadakan mereka peroleh darimana setelah melihat bahwa sapi itu dengan ganasnya berlari menyerbu ke arah mereka.


Lalu seperempat kilo dari situ ketika sudah masuk ke jalan di dalam dusun (hanya ada satu jalan saja di situ dan di kiri serta kanan mereka menjulang tebing yang tinggi), dan hampir saja terkejar sapi itu, lalu Bobby dan dua orang lainnya langsung lompat ke bawah sebuah tebing kecil dalam pekarangan penduduk, dan seorang diantaranya langsung nyungsep di bawah gardu ronda, dan seorang lagi yang juga terjun bersama Bobby dan tapi langsung masuk menerobos pintu rumah itu yang kebetulan adalah ruang masak/dapurnya dan si pemilik rumah para wanita itu sedang memasak di situ. “Kulo nuwuun Bu …. wonten sapiii” ucapnya.


Kekacauan itu berubah jadi acara cekiki’an alias pada kepingkel-pingkel semua.


Dan sapi itu berhenti di situ dan celingukan kekiri dan kekanan seperti bingung sedang pemiliknya yang barusan datang sambil terengah-engah lalu minta maaf karena takut anak2 itu damprat.


Dan hari itu akhirnya dipenuhi cerita tentang sapi.

Comments Off