Kisah Cinta [Mirip] Raden Joko Tarub – Dewi Nawangwulan.

Saat itu dalam kegalauan hati Bobby Meidianto “Jaguar”  sebab bingung  dan merasa sedih terpaksa meninggalkan Astuti, gadis yang ia cintai sebenarnya karena ia sudah harus menikah dengan seorang gadis lain yang sebelumnya hanyalah jadi pelarian kekecewaannya karena di tinggal Endang Sugiyanti, juga lantaran rencana pernikahannya yang harus jadi itupun juga terancam batal, dan atau malah ribut,  Ia pergi meninggalkan Solo.

Hanya dengan sebuah ransel di punggungnya yang berisi sarung dan satu stel pakaian, ia pergi jalan kaki menuju Purwodadi.

Setelah hampir seharian dario Subuh hingga jam empat Sore itu ia baru sampai dan kakinya amat sangat penat. amun ia tetap saja jalan, hingga sampai sebuah sungai.  Ia hanya tahu dari orang2 di sana bahwa kalau ia terus melewati gunung itu, ia akan sampai ke daerah yang namanya Perwoto.

Capek sekali rasanya kakinya, dan akhirnya ia memilih beristirahat di pinggir sungai di bawah pohon bambu Yang amat sangat rindang. Biasanya ia mikir kalau duduk di sekitar pohon bambu sebab sering kali ada banyak ular, namun saat itu ia jadi seperti kelupaan.   Dan malahan duduk melamun begitu lama di situ.

Tiba2,  “Mas…..mas……heiiii…… tolong jangan noleh dulu….yah?!” terdengar suara wanita berseru kepadanya. dan baru setelah beberapa kali Bobby Meidianto tersadar.  Kaget ia, koq ada cewe dekat situ? dan Ia baru sadar bahwa di sungai itu ada seorang bidadari yang amat sangat manis dan cantik sekalipun…. sudah pasti toh, wong tempatnya di desa ya cuma gadis desa aja, dan entah pendidikannya apa.  Rupanya dari tadi sepertinya cewe itu mandi di situ dan Bobby tidak memperhatikannya dan baru setelah cewe itu mau ….. he he …he….ha…ha…ha…..

* Si Inyong jadi senewen bikin kisah ini malahan, gwe kumpul Inyong seminggu aja,  jadi Malaria beneran panas dingin dengarin ceritanya, kalau ga sakit jantung malahan nantinya. Susah deh…tapi kisah Mas Bobby tuh bagus banget juga nih.

* Ha ha ha ha………Inyong  trusin deh!

Rupanya Gadis itu mau naik dan juga pas mau ambil kain panjangnya yang ia sampirkan di pinggir sungai sekaligus mau memakainya.  “Mas Jangan noleh ke arah sini dulu yah???!”  serunya sambil tersenyum melihat  Bobby yang bengong liatin wajahnya nan cantik dan ayu itu.  “Eh…iya….iya…” sahut Bobby Meidianto sambil duduknya ke arah lain membelakangi cewe itu.

“Sudah Mas…..!” terdengar lagi suara itu setelah beberapa saat. Dan itupun Bobby masih melihat gadis itu naik ke darat dengan kain panjang yang melekat erat di badannya, dan karena agak kikuk karena takut kain panjangnya tersingkap terlalu keatas atau lepas jadi, gadis itu agak kesulitannaik, dan Mas Bobby segera mendekatinya sambil bilng maaf. Ia ulurkan tangannya kearah gadis itu dan dengan hati2 menariknya dan …biarpun badan dan kain panjang yang di kenakan gadis itu basah, jadi tubuh mereka berdua seperti hampir berpelukan.  Hati mas Bobby jadi deg-deg an dan pikirannya jadi ga keruan.

Gadis itu tersenyum ..entah bagaimana perasaannya, sama sekali ia tidak marah.  Bobby Meidianto, jadi seperti mabok kepayang melihat senyum dan kecantikan gadis itu.  Sampai ga sadar mereka berdua sempat berpelukan sesaat. [Peristiwa ini mirip dengan yang ada di kisah Bobby Meidianto-[Arwah] Putri Mandalika].

Lalu mereka berdua berjalan bareng sambil ngobrol, setelah mas Bobby mengambil Ranselnya yang sebelumnya ia letakkan di dekat  rumpun  bambu.

Ternyata gadis itu sudah SMA kelas 3 di Purwodadi.  Namanya Bobby sekarang lupa namun cantik juga bahkan nama yang agak modern.  Bobby antar gadis itu sampai di rumahnya di ujung desa.  Bobby Meidianto tak gubris lagi itu cewe beneran ataukah jin kesiangan,  gadis itu meminta ia bermalam di situ, namun ia tolak, karena begitu gadis itu bilang begitu, ia jadi teringat, hal yang membuatnya sampai kesitu.

“Sayang sekali…ini tempat benar2 masih pelosok, kalau surat2an juga lama sampainya musti di alamatkan ke Kalurahan dulu” pikir Bobby Meidianto. “Lagian kan…aku ini baru susah…apakah aku ini musti mutusin cewe ini juga sesudah aku pacaran dengannya seperti aku dengan Astuti? Juga gimana dengan Andri yang sekarang juga lagi hamil? Apa aku ini lalu jadi kabur begini?”

Akhirnya Bobby Meidianto, mau juga setelah dipaksa juga oleh gadis itu untuk mau singgah dan menginap di rumahnya.   Diluar dugaan Bobby Meidianto, Ortu Gadis itu, baik banget.  Bukan mainkatanya….. seperti bahkan lebih dari ayahnya senndiri, dan ramah nya bukan main. kalau tidak malu begitu, ingin rasanya Bobby Meidianto tinggal di situ lama-lama.

Akhirnya Keesokan harinya Bobby Meidianto Pamitan untuk melanjutkan perjalanan dan begitu kakinya melangkah keluar dari halaman rumah gadis itu, hatinya sudah ia tekatkan untuk melupakan saja gadis yang barusan ia kenal, toh, ia belum  ada hal2  khusus yang menghiasi perkenalannya sekalipun sayang sekali rasanya kehilangan gadis secantik dan semanis gadis ini. [Walaupun ga bisa lupa juga].

Begitulah, Bobby Meidianto, berjalan meninggalkan gadis itu dan desa itu [yang sekarang ia lupa dimana tempatnya itu] di iringi senyum sedih dari gadis itu.

End.




Comments Off